Journal of Safety, Health, and Environmental Engineering
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE
Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Perkapalan Negeri Surabayaen-USJournal of Safety, Health, and Environmental Engineering3031-3589Cover, Daftar Editor dan Daftar Isi
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE/article/view/133
<p>Cover, Daftar Editor dan Daftar Isi</p>Editor JSHEE
Copyright (c) 2026 Journal of Safety, Health, and Environmental Engineering
2026-06-252026-06-2541Penerapan Metode HIRADC dalam Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko Kerja di PT Metal Teknologi Indonesia
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE/article/view/115
<p>Industri manufaktur memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang relatif tinggi akibat penggunaan mesin, peralatan kerja, serta aktivitas manual yang dilakukan secara berulang. PT Metal Teknologi Indonesia sebagai perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur memiliki berbagai potensi bahaya yang perlu dikelola secara sistematis untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, serta menentukan pengendalian risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC). Metode penelitian yang digunakan adalah observasi langsung di area produksi, wawancara dengan pihak terkait, serta studi dokumentasi terhadap prosedur dan kondisi kerja yang ada. Identifikasi bahaya dilakukan pada empat stasiun kerja utama, yaitu stasiun bubut, milling, cylindrical grinding, dan surface grinding. Penilaian risiko dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat keparahan dampak (severity) dan kemungkinan terjadinya risiko (likelihood) untuk menentukan tingkat risiko yang diklasifikasikan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas kerja berada pada tingkat risiko sedang (medium), dengan beberapa aktivitas yang memiliki tingkat risiko tinggi (high), terutama pada proses pemotongan dan penggerindaan. Faktor utama penyebab risiko meliputi penggunaan alat pelindung diri yang belum optimal, keterbatasan pelindung mesin, serta belum diterapkannya prosedur keselamatan secara konsisten, seperti sistem lock out–tag out dan interlock. Berdasarkan hasil tersebut, dirumuskan pengendalian risiko yang meliputi pengendalian teknis, administratif, serta peningkatan penggunaan alat pelindung diri. Penerapan pengendalian yang direkomendasikan diharapkan dapat menurunkan tingkat risiko kecelakaan kerja dan meningkatkan keselamatan kerja di lingkungan PT Metal Teknologi Indonesia.</p>Hikmal AbrarAlifah AlmasMuhammad Naufaldi RasyidNadila Puspita Tri HandayaniNiken ParwatiWidya Nurcahayanti Tanjung
Copyright (c) 2026 Journal of Safety, Health, and Environmental Engineering
2026-06-112026-06-114111010.35991/jshee.v4i1.115Analisis Efektivitas Implementasi Toolbox Meeting Terhadap Penurunan Angka Unsafe Action di Pertambangan Batubara
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE/article/view/111
<p>Industri pertambangan batubara merupakan sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, di mana <em>unsafe action </em>pekerja menjadi salah satu faktor dominan penyebab terjadinya insiden keselamatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan unsafe action adalah melalui penerapan toolbox meeting sebagai media komunikasi keselamatan sebelum pekerjaan dimulai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi toolbox meeting terhadap penurunan unsafe action pada Divisi <em>Maintenance</em> PT. ABC. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-eksperimental melalui pengukuran berulang pada tiga periode, yaitu sebelum <em>(pre</em>), selama (<em>during</em>), dan setelah (<em>post</em>) implementasi toolbox meeting dengan jumlah responden 30 pekerja. Data unsafe action diperoleh melalui observasi perilaku keselamatan kerja dan dianalisis menggunakan Repeated Measures ANOVA setelah memenuhi asumsi normalitas residual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total unsafe action menurun dari 103 kejadian pada periode pre menjadi 87 kejadian pada periode during dan turun secara signifikan menjadi 32 kejadian pada periode post. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan jumlah <em>unsafe action</em> antar periode pengukuran dengan nilai F(2,28) = 344,075 dan p < 0,001. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan toolbox meeting secara rutin dan terstruktur mampu meningkatkan perilaku kerja aman, meningkatkan kepatuhan terhadap penggunaan APD, serta memperkuat penerapan prosedur kerja aman. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa toolbox meeting merupakan intervensi yang efektif dalam menurunkan unsafe action dan membangun budaya keselamatan kerja yang berkelanjutan di lingkungan pertambangan batubara.</p>Emil SyamsudinHaidar Natsir AmrullahMey Rohma Dhani
Copyright (c) 2026 Journal of Safety, Health, and Environmental Engineering
2026-06-182026-06-18411117Analisis Potensi Risiko Bahaya Ergonomi Menggunakan Metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA) Pada Pekerja Manajemen Kantor Pusat Perusahaan Jasa Penyedia Tenaga Alih Daya
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE/article/view/95
<p>Perusahaan Jasa Penyedia Tenaga Alih Daya menyediakan layanan pendukung operasional kepelabuhanan dan kegiatan operasionalnya didukung oleh pekerjaan manajemen di kantor pusat yang melibatkan penggunaan komputer dalam waktu lama. Pekerjaan ini berisiko menyebabkan gangguan muskuloskeletal (MSDs) akibat postur kerja yang tidak ergonomis. Studi pendahuluan menunjukkan 17% pekerja mengalami keluhan pada bagian tubuh berisiko dan 15% pada risiko sedang yaitu punggung bawah, leher, bahu, punggung atas. Pekerja duduk dalam posisi statis dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB dengan istirahat satu jam. Penelitian ini bertujuan menganalisis postur kerja dan merancang ulang stasiun kerja secara ergonomis menggunakan metode SNI</p> <p>9011:2021 untuk identifikasi keluhan GOTRAK, Rapid Office Strain Assessment (ROSA) untuk penilaian postur, dan software CATIA untuk simulasi perbaikan. Rekomendasi desain stasiun kerja didasarkan pada data Antropometri Indonesia. Tahapan penelitian meliputi observasi, survei, dokumentasi postur, analisis risiko, dan perancangan ulang stasiun kerja yang ergonomis.</p>Lukman HandokoWiediartiniFira Hazmi FardaniMuhammad Ilham Permana
Copyright (c) 2026 Journal of Safety, Health and Environmental Engineering
2026-06-182026-06-1841182610.35991/jshee.v4i1.95Risiko di Ruang Terbatas: Penerapan Metode Confined Space Risk Analysis untuk Menentukan Pengendalian Preventif di Reaktor Hidrogenasi
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE/article/view/85
<p>Reaktor kimia adalah inti proses di industri, dan pemeliharaannya sangat penting untuk prokduktivitas perusahaan. Penelitian ini berfokus pada reaktor hidrogenasi yang digunakan untuk mengubah bahan kimia melalui reaksi dengan hidrogen dan bantuan katalis. Reaktor tersebut memiliki akses terbatas, yang menjadikannya ruang terbatas sehingga memerlukan perhatian khusus untuk keselamatan kerja. Proses pekerjaannya yakni penggantian katalis yang meliputi penghisapan, pemuatan, dan pengelasan indikator suhu, sehingga memiliki risiko tinggi karena pekerjaannya melibatkan ruang terbatas, <em>hot work</em>, dan ketinggian. Terdapat beberapa temuan seperti kejadian klaustrofobia pada karyawan menunjukkan perlunya evaluasi kesehatan mental dan penerapan sistem <em>Lock-Out Tag-Out</em> (LOTO) yang belum lengkap untuk melindungi pekerja dari sumber energi berbahaya. Meskipun perusahaan telah melakukan langkah pencegahan, dokumen Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR) masih kurang rinci menganalisis risiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko pekerjaan di reaktor hidrogenasi menggunakan metode <em>Confined Space Risk Analysis</em> (CSRA) dengan mengidentifikasi bahaya dan mengurangi tingkat risiko yang dihasilkan melalui pengendalian yang lebih efektif. Hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko menggunakan metode CSRA menghasilkan 234 risiko yang terbagi dalam 6 kategori. Persentase risiko meliputi: <em>falling</em> (14,9%), <em>ergonomic</em> (39,9%), <em>atmospheric</em> (10,7%), <em>physical</em> (17,9%), <em>chemical</em> (5,4%), dan <em>mechanical</em> (11,3%). Penilaian awal menunjukkan 3,8% ekstrem, 61,1% tinggi, 30,8% sedang, dan 4,3% rendah. Penilaian akhir menunjukkan 20,9% sedang, 69,7% rendah hingga sedang, dan 9,4% rendah. Pengendalian dilakukan dengan mengkombinasikan hierarki pengendalian untuk mereduksi level risiko ke tingkat yang paling rendah yang dapat diturunkan.</p>Mey Rohma DhaniAgung NugrohoAulia Magfira Denizi
Copyright (c) 2026 Journal of Safety, Health and Environmental Engineering
2026-06-182026-06-1841273610.35991/jshee.v4i1.85Identifikasi Critical Success Factors Pada Penerapan Construction Safety Management System Menggunakan Metode AHP
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE/article/view/93
<p>Aktivitas <em>irregular job </em>pada perusahaan manufaktur mobil di Indonesia merujuk pada aktivitas di luar proses produksi utama yang biasanya melibatkan pihak eksternal. Salah satu aktivitas <em>irregular job </em>yang memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja dan potensi bahaya tinggi adalah kegiatan konstruksi. Menurut data Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia yang bersumber dari data BPJS Ketenagakerjaan, jasa konstruksi menyumbang sebanyak 2.971 kasus kecelakaan sepanjang 2023. Oleh karena itu, <em>Construction Safety Management System </em>(CSMS) dibutuhkan untuk dapat mengelola dan mengontrol pemenuhan standar keselamatan konstruksi. Agar implementasi CSMS dapat berjalan efektif, diperlukan identifikasi faktor-faktor kritis yang memengaruhi keberhasilannya. Berangkat dari kondisi tersebut, peneliti mengusulkan pendekatan berbasis konsep <em>Critical Success Factors </em>(CSFs) untuk mengidentifikasi penerapan CSMS menggunakan metode <em>Analytical Hierarchy Process </em>(AHP). Penyusunan CSFs diadopsi dari <em>International Sustainability Rating System </em>(ISRS) - DNV GL dan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yang dikategorikan ke dalam kriteria Strategi <em>Plan-Do-Check-Action </em>(PDCA). Penentuan prioritas setiap CSFs dilakukan dengan menggunakan <em>software </em>Expert Choice berdasarkan hasil pembobotan oleh <em>expert judgement</em>. Dari hasil penelitian ini diperoleh 17 CSFs yang teridentifikasi menentukan keberhasilan dalam penerapan CSMS di perusahaan manufaktur mobil. CSFs dengan tingkat prioritas tertinggi berdasarkan hasil pembobotan AHP dari masing-masing kriteria adalah sumber daya manusia (<em>plan</em>), pelatihan dan kompetensi (<em>do</em>), keterlibatan pemangku kebijakan/manajemen (strategi dan kebijakan), pemantauan risiko (<em>check</em>), dan perbaikan berkelanjutan (<em>action</em>).</p>Bernika Irnandianis EvadaMoch Luqman AshariAm Maisarah DisrinamaYosia Inendatama
Copyright (c) 2026 Journal of Safety, Health, and Environmental Engineering
2026-06-252026-06-2541374510.35991/jshee.v4i1.93Human Error Analysis pada Produksi Concrete Spun Pile dengan Cognitive Reliability and Error Analysis Method (CREAM) di Perusahaan Beton Pracetak
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE/article/view/86
<p>Meningkatnya kebutuhan beton pracetak untuk memenuhi rancangan pembangunan infrastuktur pemerintah meningkatkan produksi beton pracetak, salah satunya produksi concrete spun pile . Produksi ini terdiri beberapa tahapan pekerjaan yaitu persiapan HSE, persiapan produksi, persiapan QC, pemotongan, pembuatan kepala, dan pengelasan, assembling rakitan PC Bar, setting rakitan di cetakan, pengecoran, stressing, spinning, steaming, pembukaan cetakan, dan finishing spun pile. Pada produksi concrete spun pile, terhitung sejak tahun 2021 hingga September 2024, terjadi kecelakaan kerja akibat human error di mana berjumlah 50% dari total kecelakaan di produksi pabrik beton pracetak. Karena itu diperlukan penelitian yang menganalisis human error probability pada pekerjaan produksi concrete spun pile dengan menggunakan Cognitive Reliability and Error Analysis Method (CREAM). Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa terdapat 3 nilai tertinggi yaitu urutan pertama ada substask 5.4; 6,4; dan 6.5, urutan kedua ada subtask 3.1; 4.6; 4.16; 4.25; 4.32; 5.2; 5.12; 6.12; 11.13; 11.14; 12.16, dan urutan ketiga ada pada subtask 1.4 dengan nilai adjusted CFP 0,090. Rekomendasi yang dapat diberikan untuk meminimalisir terjadinya human error yaitu dengan pengendalian substitusi yaitu supervisor, personil qc, dan pekerja lebih kompeten. Pengendalian engineering control yaitu penerapan alat ukur presisi, sistem digitalisasi. Pengendalian administratif yaitu dengan pembaruan intruksi kerja dan pelatihan teknis, serta penggunaan APD yang sesuai dapat menjadi strategi efektif untuk mengurangi potensi kesalahan manusia dan meningkatkan keselamatan serta kualitas dalam proses produksi concrete spun pile.<br>Kata Kunci: Human error, Human Reliability Assessment (HRA), CREAM, Adjusted Cognitive Failure Probability (CFP), Produksi Concrete spun pile</p>Putri Dwi RohmawatiGalih AninditaDika Rahayu WidianaFuji Rizki Nur Khasanah
Copyright (c) 2025 Journal of Safety, Health, and Environmental Engineering
2026-06-252026-06-2541466210.35991/jshee.v3i2.86Manajemen Risiko K3 pada Pekerjaan Penggantian Bottom plate Tangki CPO dengan Pendekatan HIRADC
https://jshee.ppns.ac.id/index.php/JSHEE/article/view/94
<p>Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek penting dalam perlindungan tenaga kerja, terutama pada pekerjaan di ruang terbatas seperti tangki penyimpanan dalam industri pengolahan minyak kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, serta menentukan langkah pengendalian yang tepat dalam aktivitas penggantian bottom plate pada tangki penyimpanan CPO yang dialihfungsikan menjadi tangki PFAD. Metode yang digunakan adalah <em>Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control</em> (HIRADC) berdasarkan prinsip hierarki pengendalian risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sembilan aktivitas utama pekerjaan, peniliaian risiko awal ditemukan 130 potensi bahaya, dengan 121 risiko berada pada kategori sedang dan 9 risiko tergolong tinggi. Hasil Peniliain risiko akhir memiliki dua aktivitas yang memiliki tingkat risiko tidak dapat diterima, yaitu pemotongan <em>steam coil</em> dan penggerindaan <em>spatter</em>, tetap berada pada tingkat risiko sedang yang tidak dapat diterima akibat paparan kebisingan hingga 100 dB, meskipun telah dilakukan pengendalian menggunakan ear muff dengan NRR 30 dB. Kondisi ini menandakan pentingnya kajian lanjutan terkait rotasi pekerja, penambahan pekerja, dan penyesuaian waktu paparan untuk menurunkan risiko hingga tingkat yang dapat diterima. Penelitian ini menegaskan perlunya implementasi sistematis metode HIRADC dalam ruang terbatas untuk mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.</p>Vicky ZulkarnainMochammad Choirul RizalNora Amelia NovitrieM. Reza Firmansyah
Copyright (c) 2025 Journal of Safety, Health, and Environmental Engineering
2026-06-252026-06-2541637110.35991/jshee.v3i2.94